Kamis, 01 Agustus 2013

Penyuluhan Pertanian Humanistik dan Agamis (Part II)

1.3. PENYULUHAN PERTANIAN YANG HUMANISTIK DAN AGAMIS (P-PHA) Pada saat ini muncul sebuah teori pembelajaran yang disebut pembelajaran humanistik. Teori ini memfokuskan diri pada hasil afektif, belajar tentang bagaimana belajar dan belajar untuk meningkatkan kreativitas dan potensi manusia. Pendekatan humanistik ini sendiri muncul sebagai bentuk ketidaksetujuan pada dua pandangan sebelumnya, yaitu pandangan psikoanalisis dan behavioristic dalam menjelaskan tingkah laku manusia. Ketidaksetujuan ini berdasarkan anggapan bahwa pandangan psikoanalisis terlalu menunjukkan pesimisme suram serta keputusasaan sedangkan pandangan behavioristic dianggap terlalu kaku (mekanistik), pasif, statis dan penurut dalam menggambarkan manusia. Teori pembelajaran humanistik ini prinsip dasarnya adalah teori yang “memanusiakan manusia”, dalam kata lain teori ini lebih melihat manusia seutuhnya dan sesuai fitrahnya. Teori humanistik juga sangat relevan dengan syari’at ajaran agama Islam. Teori belajar humanistik sifatnya abstrak dan lebih mendekati kajian filsafat. Teori ini lebih banyak berbicara tentang konsep-konsep. Dalam teori pembelajaran humanistik, belajar merupakan proses yang dimulai dan ditujukan untuk kepentingan memanusiakan manusia. Memanusiakan manusia, yakni untuk mencapai aktualisasi diri, pemahaman diri, serta realisasi diri orang yang belajar secara optimal. Dalam hal ini, maka teori humanistik ini bersifat eklektik (memanfaatkan / merangkum semua teori apapun dengan tujuan untuk memanusiakan manusia). Salah satu ide penting dalam teori belajar humanistik adalah siswa harus mempunyai kemampuan untuk mengarahkan sendiri perilakunya dalam belajar (self regulated learning), apa yang akan dipelajari dan sampai tingkatan mana, kapan dan bagaimana mereka akan belajar. Siswa belajar mengarahkan sekaligus memotivasi diri sendiri dalam belajar daripada sekedar menjadi penerima pasif dalam proses belajar. Siswa juga belajar menilai kegunaan belajar itu bagi dirinya sendiri. Menurut seorang ahli barat yang juga ikut mempopulerkan pendekatan humanistik yaitu, David Kolb yang mengembangkan konsep belajar dengan teori Experiential Learning, ia mendefinisikan belajar sebagai proses dimana pengetahuan diciptakan melalui transformasi pengalaman. Pengetahuan dianggap sebagai perpaduan antara memahami dan mentransformasi pengalaman. Lebih lanjut, Kolb membagi belajar menjadi 4 tahap : 1) Tahap pengamalan konkrit (Concrete Experience) Merupakan tahap paling awal, yakni seseorang mengalami sesuatu peristiwa sebagaimana adanya (hanya merasakan, melihat, dan menceritakan kembali peristiwa itu). Dalam tahap ini seseorang belum memiliki kesadaran tentang hakikat peristiwa tersebut, apa yang sesungguhnya terjadi, dan mengapa hal itu terjadi. 2) Tahap Pengalaman Aktif dan Reflektif (Reflection Observation) Pada tahap ini sudah ada observasi terhadap peristiwa yang dialami, mencari jawaban, melaksanakan refleksi, mengembangkan pertanyaan- pertanyaan bagaimana peristiwa terjadi, dan mengapa terjadi. 3) Tahap Konseptualisasi (Abstract Conseptualization) Pada tahap ini seseorang sudah berupaya membuat sebuah abstraksi, mengembangkan suatu teori, konsep, prosedur tentang sesuatu yang sedang menjadi objek perhatian. 4) Tahap Eksperimentasi Aktif (Active Experimentation) Pada tahap ini sudah ada upaya melakukan eksperimen secara aktif, dan mampu mengaplikasikan konsep, teori ke dalam situasi nyata. Berdasarkan teori humanistik itu intinya manusia dipandang sebagai sebuah sosok yang utuh selayaknya sesuai dengan yang telah Islam ajarkan sejak dahulu. Oleh karena itu maka adalah sebuah keharusan dimana apapun yang diajarkan dan pada siapapun haruslah selalu bisa mengandung isi yang dapat memenuhi kedua unsur dalam tubuh manusia yaitu unsur jasmani dan rohani. Tidaklah akan ada keseimbangan ketika seorang manusia hanya terfokus pada aspek pengetahuan teknis saja sedangkan unsur hak ruh/rohani telah terlupakan. Kegiatan penyuluhan pertanian pada dasarnya merupakan salah satu kegiatan dari sebuah rekayasa sosial (social engineering) yang mempunyai pengertian campur tangan sebuah gerakan ilmiah dari visi ideal tertentu yang ditujukan untuk mempengaruhi perubahan sosial. Penyuluhan pertanian secara ideal bertujuan untuk merubah Pengetahuan, Keterampilan dan Sikap. Tujuan dari penyuluhan pertanian sejalan dengan teori rekayasa sosial dimana, rekayasa sosial bertujuan untuk dapat merubah perilaku individual, dapat merubah status sosial, dan dapat mempertinggi martabat umat. Namun pada saat ini entah disadari ataupun tidak dalam kegiatan penyuluhan pertanian khususnya dan pengembangan sumberdaya manusia secara umum, ada tujuan yang terlupakan dan hanya terfokus pada satu aspek, yaitu pada aspek pengembangan segi teknis/pengetahuan duniawi saja. Ada hal yang terlupakan yaitu pemenuhan aspek rohani, dan jika adapun hanyalah kegiatan incidental dan tidak selalu di sertakan dalam setiap kegiatan. Pada saat ini sesuai dengan Visi Kabupaten Sumedang yaitu SENYUM MANIS, yang salah satu unsurnya adalah AGAMIS, maka sudah sepantasnya dan seharusnya selalu mengikutkan aspek agama dalam setiap upaya pengembangan Sumber Daya Manusia di kabupaten Sumedang sehingga SDM di Sumedang mempunyai daya saing. Tatanan pemerintahan dan masyarakat Sumedang tergolong dalam golongan Rahmatan lil ‘Alamin. Diharapkan masyarakat Sumedang dapat menjadi agen perubahan (change agent) bagi kemajuan Negara kita tercinta Indonesia. Jika pemenuhan unsur jasmani dan rohani dapat berjalan seimbang dalam aktivitas penyuluhan pertanian maka penyuluhan pertanian akan mempunyai nilai tawar yang lebih dari saat ini. Jika saat ini ada sebuah kenyataan petani akan terus bertani walau tidak ada penyuluh dan penyuluhan maka suatu saat kedepan jika konsep ini berjalan petani di Sumedang akan mempunyai nilai plus yaitu menjadi petani yang Rahmatan lil ‘alamin, petani yang dapat membawa kesuksesannya untuk terus ditularkan pada saudaranya yang lain, petani yang dapat memberi manfaat lebih pada saudaranya yang lain. Allah SWT berfirman dalam Surat Ali Imran ayat 30, yang berarti : “Pada hari ketika tiap-tiap diri mendapati segala kebajikan dihadapkan (dimukanya), begitu (juga) kejahatan yang telah dikerjakannya; ia ingin kalau kiranya antara ia dengan hari itu ada masa yang jauh; dan Allah memperingatkan kamu terhadap siksa-Nya. Dan Allah sangat Penyayang kepada hamba-hamba-Nya.” Jika umur kita telah kita manfaatkan sebaik-baiknya semoga kita tidak akan lagi menyesal dan berharap kembali kedunia ini ketika kita telah meninggalkannya. Nilai yang harus ditanamkan dalam setiap diri adalah sebuah keyakinan murni tanpa keraguan, sebuah keyakinan seperti tergambar dalam ayat diatas bahwa kelak di akhirat akan ditampakan setiap kebaikan dan kejahatan yang kita lakukan dan keduanya mendapatkan ganjaran yang sesuai. Inti dari semua pemaparan pada paragraph diatas adalah sudah saatnya kita memposisikan diri menjadi agen penebar amal kebajikan apapun profesi kita, apapun kondisi kita dan siapapun kita. Sudah saatnya ada sebuah perubahan dengan melakukan proses pembelajaran yang “memanusiakan manusia” dan menyeimbangkan antara hak jasmani dan rohani. III KURIKULUM METODE P-PHA Dalam upaya mewujudkan konsep Penyuluhan Pertanian Humanistik dan Agamis (P-PHA) maka saya berupaya membuat suatu panduan dan kurikulum dalam menjalankannya. Kurikulum ini dibuat berdasarkan pada setiap pemaparan diatas dimana pada intinya konsep yang harus menjadi pedoman adalah sebagai berikut : 1. Konsep bahwa manusia terdiri atas ruh dan jasmani serta merupakan kesatuan yang tidak terpisahkan. 2. Kedudukan manusia dalam penciptaanya adalah menjadi seorang pemimpin yang bertanggung jawab dan bertugas hanya untuk beribadah pada Allah SWT. 3. Konsep pembelajaran sudah seharusnya mengandung unsur “memanusiakan manusia” sehingga akan memunculkan pribadi-pribadi unggul yang optimis penuh motivasi. Dalam kurikulum ini sasaran yang ingin dicapai adalah ketika para petani menyadari tentang hakikat dirinya sebagai manusia, yang selanjutnya menyadari akan potensinya dan menyadari akan kelemahannya selama ini sehingga pada titik akhirnya para petani akan mempunyai motivasi tinggi. Ketika manusia sudah memiliki motivasi dan kesadaran ia akan dengan sendirinya berupaya mengembangkan kemampuan diri, sehingga akan lebih menerima materi tentang perkembangan teknologi pertanian dan hal-hal teknis lainnya. Nilai lebih yang diharapkan dari kurikulum ini adalah kesadaran petani untuk bertawakal, menerima hasil sebagai sebuah ketentuan dari Yang Maha Kuasa. Selayaknya pembelajaran andragogi, maka kurikulum dan pelaksanaannya tidak bisa dilakukan hanya satu kali, namun ada tahapan yang harus dilalui dan harus berulang. Tahap pengulang akan lebih meningkatkan hasil. Pada tahap pertama diharapkan targetan akan tahu, pada tahap kedua mereka paham dan pada tahap ketiga mereka mau mengamalkannya.

Rabu, 31 Juli 2013

Penyuluhan Pertanian Humanistik dan Agamis (Part I)

I PENDAHULUAN Siapa kita? kenapa kita dilahirkan didunia ini? apa tugas kita didunia? kemana kita setelah hak setiap makhluk hidup yaitu kematian menimpa kita?. Akan begitu banyak pertanyaan bagi setiap manusia yang berpikir dan Allah berjanji akan menaikan derajat bagi mereka yang mau berpikir mencari ilmu. Subhanallah, Allah Maha Adil dan Maha Bijaksana, Ia menaikan derajat bagi mereka yang berilmu karena memang kehidupan kita didunia ini akan membuat kita terlena dan akhirnya membuat kita malas berpikir tentang hakikat keberadaan kita dimuka bumi ini. Mereka yang sukses dengan hartanya membuat mereka terlena dan melupakan hak-hak fakir miskin, mereka yang sukses dengan tahta membuat mereka terlena dan lupa bahwa jabatan dan kepemimpinannya kelak akan dimintai pertanggungjawaban, mereka yang sukses dengan “cinta” terkadang lupa bahwa ia pun berkewajiban mencintai sesamanya, dan yang lebih menyedihkan lagi ada mereka yang dalam kehidupan pas-pasan tapi terlena dengan kefakirannya dan melupakan Tuhan-nya. Ternyata kesuksesan dan ketidaksuksesan manusia didunia ini akan membuat mereka terlena ketika manusia tidak mau berpikir, dan untuk berpikir manusia membutuhkan ilmu. Kadar keimanan dan kecintaan pada Allah SWT dan nilai-nilai kebaikan ternyata tergantung pada tingkat kepahaman ilmunya, misalkan ketika seorang ahli oceanografi (ilmu tentang kelautan) akan lebih kagum dan menambah keimanannya ketika mendengar surat Al Furqon ayat 53 : “Dan Dialah yang membiarkan dua laut yang mengalir (berdampingan); yang ini tawar lagi segar dan yang lain asin lagi pahit; dan Dia jadikan antara keduanya dinding dan batas yang menghalangi.”, Begitu pula dengan ahli geologi dan vulkanologi akan membuat mereka bertambah keimanannya ketika mereka mempelajari ayat-ayat kitab suci Al Qur’an yang berhubungan dengan disiplin ilmunya. Ini semua merupakan sebuah titik awal ketika seseorang bertambah keimanannya karena sesuai kepahaman ilmunya maka setelah itu mereka akan termotivasi untuk terus belajar dan mempelajari, kembali jika manusia ini terus berpikir. Oleh karenanya dapat diartikan ketika manusia mau berpikir maka manusia itu akan terus menggali ilmu, manusia itu akan terus berpikir tentang hakikat penciptaan dirinya di dunia ini dan akan bisa menjawab pertanyaan pada awal kalimat di paragraph pertama, mereka yang berpikir juga akan memaknai kesuksesan itu bukanlah untuk dinikmati seorang diri tapi yang disebut kesuksesan itu ketika keberadaan harta, tahta dan cinta kita bisa bermanfaat bagi orang lain. Subhanallah, sungguh “dalam” makna dari kalamullah dalam surat Al Mujadilah ayat 11 : “Hai orang-orang beriman apabila dikatakan kepadamu: "Berlapang-lapanglah dalam majlis", maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu", maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” II PEMBAHASAN 1.1. HAKIKAT MANUSIA Manusia mempunyai banyak pengertian menurut para ahli ada yang menyebutkan manusia itu adalah “mahluk hidup berkaki dua yang tidak berbulu dengan kuku datar dan lebar” (Sokrates). Ada pula yang menyebutkan manusia itu adalah “mahluk yang dinamis dengan trias dinamikanya, yaitu cipta, rasa dan karsa” (I Wayan Watra). Apapun yang disebutkan mereka para ahli adalah sesuai dengan tingkat kepahaman dan kadar ilmu mereka masing-masing. Dari sudut pandang psikologi, pandangan tentang hakikat manusia mengarah pada sifat-sifat manusia (human nature), yaitu sifat-sifat khas (karakteristik) segenap umat manusia (Chaplin, 1997: 231). Hakekat manusia yang dimaksud dalam kajian psikologi ini ialah sesuatu yang esensial dan merupakan ciri khas manusia sebagai makhluk yang dapat menjadikan manusia berbeda dengan makhluk-makhluk lainnya. Para pemikir Islam seperti Al-Farabi, Al-Ghazali, dan Ibnu Rusyd, menyatakan bahwa manusia merupakan rangkaian utuh antara dua unsur, yaitu unsur yang bersifat materi (jasmani) dan unsur yang bersifat immateri (rohani). Pernyataan bahwa manusia merupakan rangkaian utuh antara dua unsur mengandung makna bahwa unsur-unsur tersebut merupakan satu totalitas yang tidak bisa dipisah-pisahkan, atau dengan kata lain tidak bisa dikatakan sebagai manusia jika salah satu diantara dua unsur tersebut tidak ada. Dalam Al Qur’an yang sering disebut dalam menggambarkan unsur immateri manusia adalah kata Ar ruh dan An Nafs. Dalam surah al-Hijr ayat 28-29 Allah berfirman : “Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk. Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya dan telah meniupkan kedalamnya ruh (ciptaan)-Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud” Dalam ayat tersebut diatas disebutkan bahwa unsur ruh merupakan unsur terakhir yang dimasukan kedalam tubuh manusia setelah jasad manusia itu terbentuk, hal ini membuktikan bahwa unsur ruh merupakan hal penting yang akan menyempurnakan bentuk manusia sebagai ciptaan sang Maha Pencipta, Allah Aza Wa Jalla. Ayat tersebut juga menggambarkan bahwa eksistensi ruh pada dasarnya adalah mulia, hal ini tersirat dalam perintah Allah untuk tunduk sebagai tanda penghormatan. Pengetahuan manusia tentang ruh sangat terbatas sehingga tidak mungkin dapat mengetahui hakikat ruh secara detail. Pengetahuan manusia tidak akan mencapai pemahaman yang rinci tentang hakikat ruh, tetapi tidak satupun terdapat ayat Alquran yang menghalangi atau melarang para ulama atau cendikiawan muslim untuk berusaha memahami hakikatnya. Hal ini tergambar dalam surat Al Isra ayat 85 : “Dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah: “Ruh itu termasuk urusan Tuhan- ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit” Banyak para ilmuwan dan sarjana muslim yang berupaya untuk mempelajari lebih dalam tentang ruh dan maknanya berdasarkan disiplin ilmu mereka masing-masing. Hal ini adalah mubah selama tidak bertentangan dengan syari’at Islam. Namun apapun itu yang dikatakan para ahli tentang ruh, ada sebuah pelajaran yang sangat penting dipahami maknanya yaitu ruh merupakan suatu unsur penting yang menyatu dengan jasad manusia, yang merupakan suatu totalitas dimana kedua unsur tersebut saling berhubungan erat dan saling melengkapi. Hal ini lah yang ingin penulis coba ungkapkan bahwa setiap manusia mempunyai jasad/jasmani dan rohani yang keduanya mempunyai keterkaitan dan sangat penting. Tidaklah cukup untuk menjadi seorang manusia seutuhnya jika hanya aspek hak jasadiyah saja yang menjadi perhatian namun melupakan hak ruhiyah. Jikalau pemenuhan hak jasad dan ruh tidaklah seimbang maka tidak dapat seorang manusia disebut sebagai manusia yang seutuhnya. Jika pemenuhan hak tubuh kita tidak seimbang maka akan banyak manusia yang hidup hanya untuk makan, bukan lagi makan untuk hidup, akan banyak penguasa “tahta” yang hidup demi kepuasan pribadi dan golongan maka tidak lagi peduli pada sesama yang menuntut keadilan, akan banyak manusia yang hidup sengsara tapi lupa akan hakikat dirinya sebagai “Abdullah” (hamba Allah) maka tinggalah kerusakan dan kerugian yang akan diterima. 1.2. KEDUDUKAN MANUSIA DALAM SISTEM PENCIPTAAN Asal-usul manusia itu dari tanah, manusia adalah makhluk yang memiliki keistimewan dibanding dengan semua makhluk karena memiliki kepribadian, penciptaan yang sempurna, dan banyak potensi yang dimilikinya , akal, keinginan, spiritual, perasaan dan emosi. Semua ini terdapat pada satu tubuh yang menakjubkan. Maka maha suci Allah Pencipta Yang Paling Baik. Manusia yang merupakan bagian dari alam diciptakan dengan tujuan untuk beribadah pada-Nya, seperti disebutkan dalam firman Allah SWT, surat Adz Dzariyat ayat 56 : “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” Ibadah yang merupakan kata serapan langsung dari kata al-ibadah mempunyai arti sama dengan kata al-ubudiyah dan al-sujud, yaitu menundukkan atau merendahkan diri. Hanya saja al-ibadah digunakkan untuk menekankan makna, sehingga mempunyai arti lebih. Karenanya yang berhak menerima ibadah hanya Allah SWT. Sudah sangat jelas Allah memerintahkan kita hadir dimuka bumi ini tiada lain hanya untuk beribadah pada-Nya, maka segala aktivitas kita didunia ini kita usahakan menjadi bernilai ibadah. Hakikat ibadah seperti di kemukakan oleh Sayyid Quthb, tersimpul dalam dua prinsip berikut: 1. Tertanamnya makna al-Ubudiyyah li Allah (menundukkan dan merendahkan diri kepada Allah) didalam jiwa. Dengan kata lain, manusia senantiasa menginsyafi prinsip bahwa didalam wujud ini hanya ada ‘abid dan ma’bud, yaitu satu Tuhan yang kepada-Nya hamba beribadah dan selain-Nya adalah hamba yang beribadah kepada Tuhan. 2. Berorientasi kepada Allah dalam segala aktivitas kehidupan. Ibadah dalam konsep Islam bukan isolasi diri secara total dari aktivitas duniawi. Ibadah mencakup banyak aktivitas, tidak terbatas pada aktivitas ritual saja. Berdasarkan pendapat ini ibadah bukan hanya ritus-ritus seperti salat, puasa dan menunaikan ibadah haji; menuntut ilmu, berdagang, dan mencari nafkah juga ibadah. Namun persoalannya apakah salat dan puasa tetap disebut ibadah jika orang yang melakukannya tidak berorientasi kepada Allah; jika dalam melaksanakannya orang itu tidak berniat menundukkan diri dan merendahkan diri kepada Allah? Tanpa orientasi kepada Allah, tanpa niat itu, shalat hanya akan merupakan gerakan berdiri, membungkuk, duduk, dan seterusnya; demikian pula puasa hanya akan merupakan aktivitas menahan diri dari lapar dan haus. Begitupun segala aktivitas manusia dimuka bumi akan bernilai ibadah ketika selalu berorientasi pada Allah SWT. Selain itu, kehadiran manusia dimuka bumi ini adalah untuk menjadi pemimpin (Khalifah fil Ardl), selayaknya seorang pemimpian ia harus menjadi panutan terbaik dalam setiap sendi kehidupannya sebagaimana dicontohkan oleh Rasulullah Muhammad Saw. Manusia juga dilarang untuk berbuat kerusakan dimuka bumi, bukan karena Allah yang akan merugi tapi Allah mengingatkan karena Allah Maha Penyayang, selayaknya manusia diperintah untuk beribadah bukanlah untuk kepentingan-Nya tapi karena Allah sayang pada hamba-Nya. Berdasarkan uraian tersebut diatas sudah sangatlah jelas bahwa kehadiran manusia dimuka bumi ini untuk menjadi khalifah yang terus melakukan ibadah dalam setiap sendi kehidupannya. Oleh karena itu jikalau masih ada manusia yang menyalahi peran, tugas dan fungsinya di dunia ini berarti ia telah mengingkari-Nya. Allah memberikan amanah kepada manusia bukanlah untuk menjadi beban tetapi karena sifat-Nya yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, Allah tidak butuh semua ibadah kita tapi kitalah sebagai manusia yang membutuhkan itu sebagai bekal di akhirat kelak ketika dimintai pertanggungjawabannya.

Jumat, 10 Juni 2011

Pemberdayaan masyarakat

A. Penyuluhan dan Pemberdayaan Masyarakat

Sesuai dengan pokok-pokok pengertian tentang penyuluhan yang telah dikemukakan di atas, Margono Slamet (2000) menegaskan bahwa pemberdayaan masyarakat, merupakan ungkapan lain dari tujuan penyuluhan pemba-ngunan, yaitu untuk mengembangkan sasaran menjadi sumber daya manusia yang mampu meningkatkan kualitas hidup-nya secara mandiri, tidak tergantung pada "belas kasih" pihak lain. Dengan penyuluhan pembangunan, masyarakat sasaran mendapatkan alternatif dan mampu serta memiliki kebebasan untuk memilih alternatif yang terbaik bagi dirinya.
Penyuluhan sebagai proses pemberdayaan, akan menghasilkan masyarakat yang dinamis dan progresif secara berkelanjutan, sebab didasari oleh adanya motivasi intrinsik dan ekstrinsik dalam diri mereka.

Penyuluhan pembangunan sebagai proses pember-dayaan masyarakat, memiliki tujuan utama yang tidak terbatas pada terciptanya "better-farming, better business, dan better living, tetapi untuk memfasilitasi masyarakat (sasaran) untuk mengadopsi strategi produksi dan pemasaran agar memper-cepat terjadinya perubahan-perubahan kondisi sosial, politik dan ekonomi sehingga mereka dapat (dalam jangka panjang) meningkatkan taraf hidup pribadi dan masyarakatnya (SDC, 1995).
Sedang tugas penyuluhan tidak lagi terbatas untuk mengubah perilaku masyarakat-bawah sebagai sasaran-utamanya, tetapi untuk meningkatkan interaksi antar aktor-aktor (stakeholders) agar mereka mampu mengoptimalkan aksesibilitasnya dengan informasi agar mereka mampu meningkatkan situasi sosial dan ekonominya

Penyuluhan sebagai proses pemberdayaan masyara-kat, merupakan proses pemandirian masyarakat. Pemandirian bukanlah menggurui, dan juga bukan bersifat karitatip, mela-inkan mensyaratkan adanya peran-serta secara aktif dari semua pihak yang akan menerima manfaat, terutama dari kalangan kelompok sasaran itu sendiri.
Mandiri bukan berarti "berdiri di atas kaki sendiri" atau menolak bantuan dari luar. Mandiri tetap membuka diri dari "bantuan"`pihak luar yang benar-benar diyakini akan membe-rikan manfaat. Sebaliknya, mandiri harus berani menolak intervensi pihak luar yang (akan) merugikan atau menuntut korbanan lebih besar dibanding manfaat yang (akan) diterima.

B. Pengertian Pemberdayaan Masyarakat

Istilah pemberdayaan masyarakat sebagai terjemahan dari "empowerment" mulai ramai digunakan dalam bahasa sehari-hari di Indonesia bersama-sama dengan istilah "pengen- tasan kemiskinan" (poverty alleviation) sejak digulirkannya Program Inpres No. 5/1993 yang kemudian lebih dikenal sebagai Inpres Desa Terting-gal (IDT). Sejak itu, istillah pemberdayaan dan pengentasan-kemiskinan merupakan "sau-dara kembar" yang selalu menjadi topik dan kata-kunci dari upaya pembangunan.
Hal itu, tidak hanya berlaku di Indonesia, bahkan World Bank dalam Bulletinnya Vol. 11 No.4/Vol. 2 No. 1 October-Desember 2001 telah menetapkan pemberdayaan sebagai salah satu ujung-tombak dari Strategi Trisula (three-pronged strategy) untuk memerangi kemiskinan yang dilaksanakan sejak memasuki dasarwarsa 90-an, yang terdiri dari: penggalakan peluang (promoting opportunity) fasilitasi pem-berdayaan (facilitating empowerment) dan peningkatan kea-manan (enhancing security).

Menurut definisinya, oleh Mas'oed (1990), pember-dayaan diartikan sebagai upaya untuk memberikan daya (empowerment) atau kekuatan (strengthening) kepada masya-rakat. Sehubungan dengan pengertian ini, Sumodiningrat (1997) mengartikan keberdayaan masyarakat sebagai kemam-puan individu yang bersenyawa dengan masyarakat dalam membangun keberdayaan masyarakat yang bersangkutan.
Masyarakat dengan keberdayaan yang tinggi, adalah masya-rakat yang sebagian besar anggotanya sehat fisik dan mental, terdidik dan kuat, dan memiliki nilai-nilai intrinsik yang juga menjadi sumber keberdayaan, seperti sifat-sifat kekeluargaan, kegotong-royongan, dan (khusus bagi bangsa Indonesia) adalah keragaman atau kebhinekaan.

Keberdayaan masyarakat, adalah unsur-unsur yang memungkinkan masyarakat mampu bertahan (survive) dan (dalam pengertian yang dinamis) mampu mengembangkan diri untuk mencapai tujuan-tujuannya. Karena itu, memberdaya-kan masyarakat merupakan upaya untuk (terus menerus) me-ningkatkan harkat dan martabat lapisan masyarakat "bawah" yang tidak mampu melepaskan diri dari perangkap kemiskinan dan keterbelakangan.
Dengan kata lain, memberdayakan masyarakat adalah mening-katkan kemampuan dan meningkatkan kemandirian masyara-kat. Sejalan dengan itu, pemberdayaan dapat diartikan sebagai upaya peningkatan kemampuan masyarakat (miskin) untuk berpartisipasi, bernegosiasi, mempengaruhi dan mengendali-kan kelembagaan masyarakatnya secara bertanggung-gugat (accountable) demi perbaikan kehidupannya

Empowerment atau pemberdayaan secara singkat dapat diartikan sebagai upaya untuk memberiikan kesempatan dan kemampuan kepada kelompok masyarakat (miskin) untuk mampu dan berani bersuara (voice) serta kemampuan dan keberanian untuk memilih (choice).
Karena itu, pemberdayaan dapat diartikan sebagai proses terencana guna meningkatkan skala/upgrade utilitas dari obyek yang diberdayakan. Dasar pemikiran suatu obyek atau target group perlu diberdayakan karena obyek tersebut mem-punyai keterbatasan, ketidakberdayaan, keterbelakangan dan kebodohan dari berbagai aspek. Oleh karenanya guna meng-upayakan kesetaraan serta untuk mengurangi kesenjangan diperlukan upaya merevitalisasi untuk mengoptimalkan utilitas melalui penambahan nilai. Penambahan nilai ini dapat mencakup pada ruang bidang aspek sosial, ekonomi, kese-hatan, politik dan budaya.

Tentang hal ini, World Bank (2001) memberikan beberapa alternatif dalam fasilitasi pemberdayaan (facilitating empowerment) yang dapt diilakukan pemerinrah, melalui:

1) Basis politik dan hukum yang transparan, serta membe-rikan ruang gerak bagoi demokratisasi dan mekanisme partisipatip dalam pengambilan keputusan, dan pemantau-an implementasi kegiatan.
2) Peningkatan pertumbuhan dan pemerataan administrasi publik yang bertanggung-guugat (accountability) dan responsif terhadap penggunanya.
3) Menggerakkan desentralisasi dan pengembangan-masya-rakat yang memberikan kesempatan kepada "kelompok miskin" untuk melaku-kan kontrol terhadap semua bentuk layanan yang dilaksanakan.
Desentralisasi itu sendiri harus mampu bekerjasaman dengan mekanisme lain untuk menggerakkan partisipasi masyarakat serta pemantauan lembaga-pemerintah oleh setiap warga-negara.
4) Menggerakkan kesetaraan gender, baik dalam kegiatan ekonomi maupun dalam kelembagaan politik.
5) Memerangi hambatan-sosial (social barrier), terutama yang me-nyangkut bias-bias etnis, rasial, dan gender dalam penegakan hukum,
6) Mendukung modal-sosial yang dimiliki kelompok-miskin, terutama dukungan terciptanya jejaring agar mereka keluar dari kemiskin-annya.
Dalam hubungan ini, lemabaga pemerintah perlu meningkatkan aksesibbilitas kelompok miskin terhadaop: organisasi-perantara, pasar global, dan lembaga-lembaga publik.

Bentuk, jenis dan cara pemberdayaan masyarakat atau penguatan masyarakat (strengthening community) sangat beragam, yang hanya berwujud jika ada kemauan untuk mengubah struktur masyarakat (Adam Malik dalam Alfian, 1980).
Karena itu, usaha untuk mengentaskan masyarakat dari lem-bah kemiskinan secara hakiki sama sulitnya dengan usaha memberdayakan mereka. Tugas itu bukanlah pekerjaan mudah yang bersifat instant (segera dapat dilihat hasilnya).

Pengalaman menunjukkan, upaya-upaya pengentasan kemiskinan seringkali menghadapi kendala-kendala yang sangat besar, yang berupa:
1) Usaha-usaha untuk menghambat usaha-usaha untuk membela orang-kecil atau orang miskin, yaitu:
a) lemahnya komitmen (khususnya) aparat pemerintah untuk memihak dan membela orang miskin.
b) rendahnya kepedulian untuk memperhatikan orang miskin
c) ketidak-mampuan memahami (kehidupan) orang miskin, terutama yang terkait dengan persepi dan asumsi-asumsi
tentang "karakteristik" orang-miskin.

2) Kendala yang ada di (lingkungan) orang-miskin, yaitu:
a) kendala fisik alamiah, yang menyangkut kondisi sum-berdaya-alam tempat mereka (orang miskin) tinggal, seperti: kesuburan lahan, rawan bencana-alam, dll.
b) Kendala struktural yang bersumber (terutama) pada struktur sosial dalam masyarakatnya; dan kendala-kultural yang (seolah-olah) menyerah terhadap nasib (Alfian, 1980).
c) Kendala sistemik dari kemiskinan, yaitu berlang-sungnya suatu pola-pola (pengontrolan) tertentu terha-dap sistem politik, ekonomi, sosial, dan budaya yang berlaku dalam masyarakat, yang disadari atau tidak, justru tidak selalu menguntungkan pihak-pihak yang telah berada pada posisi diuntungkan, seperti:
- kebijakan swa-sembada pangan (beras)
- kebijakan "pangan murah"
- prioritas pembangunan perkotaan
- dll.

C. Aspek-aspek Pemberdayaan Masyarakat
Pemberdayaan masyarakat sebagaimana telah tersirat dalam definisi yang diberikan, ditinjau dari lingkup dan obyek pemberdayaan mencakup beberapa aspek, yaitu:
1) Peningkatan kepemilikan aset (sumberdaya fisik dan finan sial) serta kemampuan (secara individual dan kelompok) untuk memanfaatkan aset tersebut demi perbaikan kehi-dupan mereka.
2) Hubungan antar individu dan kelompoknya, kaitannya dengan pemilikan aset dan kemampuan memanfaatkannya.
3) Pemberdayaan dan reformasi kelembagaan.
4) Pengembangan jejaring dan kemitraan-kerja, baik di tingkat lokal, regional, maupun global

D. Unsur-unsur Pemberdayaan Masyarakat

Upaya pemberdayaan masyarakat perlu memperhati-kan sedikitnya 4 (empat) unsur pokok , yaitu:

1) Aksesibilitas informasi, karena informasi merupakan kekuasaan baru kaitannya dengan : peluang, layanan, penegakan hukum, efektivitas negosiasi, dan akuntabilitas.
2) Keterlibatan atau partisipasi, yang menyangkut siapa yang dilibatkan dan bagaimana mereka terlibat dalam kese-luruhan proses pembangunan.
3) Akuntabilitas, kaitannya dengan pertanggungjawaban publik atas segala kegiatan yang dilakukan dengan meng-atas-namakan rakyat.
4) Kapasitas organisasi lokal, kaitannya dengan kemampuan bekerja-sama, mengorganisir warga masyarakat, serta memobilisasi sumberdaya untuk memecahkan masalah-masalah yang mereka hadapi.

E. Syarat Tercapainya Tujuan Pemberdayaan Masyarakat

Untuk mencapai tujuan-tujuan pemberdayaan masya-rakat terdapat tiga jalur kegiatan yang harus dilaksanakan, yaitu :
1) Menciptakan suasana atau iklim yang memungkinkan potensi masyarakat untuk berkembang. Titik-tolaknya adalah, pengenalan bahwa setiap manusia dan masya-rakatnya memiliki potensi (daya) yang dapat dikembang-kan.
2) Pemberdayaan adalah upaya untuk membangun daya itu, dengan mendorong, memberikan motivasi, dan membang-kitkan kesadaran akan potensi yang dimilikinya, serta berupaya untuk mengembangkannya.
3) Memperkuat potensi atau daya yang dimiliki masyarakat (empowering).

Dalam rangka ini, diperlukan langkah-langkah lebih positif dan nyata, penyediaan berbagai masukan (input), serta pembu-kaan akses kepada berbagai peluang yang akan membuat masyarakat menjadi makin dalam berdaya memanfaatkan peluang.

Memberdayakan mengandung pula arti melindungi, sehinggan dalam proses pemberdayaan harus dicegah yang lemah agar tidak bertambah lemah.
Karena itu, diperlukan strategi pembangunan yang memberi-kan perhatian lebih banyak (dengan mempersiapkan) lapisan masyarakat yang masih tertinggal dan hidup di luar atau di pinggiran jalur kehidupan modern. Srtrategi ini perlu lebih dikembangkan yang intinya adalah bagaimana rakyat lapisan bawah (grassroots) harus dibantu agar lebih berdaya, sehingga tidak hanya dapat meningkatkan kapasitas produksi dan kemampuan masyarakat dengan memanfaatkan potensi yang dimiliki, tetapi juga sekaligus meningkatkan kemampuan ekonomi nasional (Sumodiningrat, 1995)

Upaya pemberdayaan masyarakat perlu mengikut-sertakan semua potensi yang ada pada masyarakat. Dalam hubungan ini, pemerintah daerah harus mengambil peranan lebih besar karena mereka yang paling mengetahui mengenai kondisi, potensi, dan kebutuhan masyarakatnya.

F. Penguatan Kapasitas Masyarakat
Penguatan kapasitas adalah proses peningkatan kemampuan indiividu, kelompok, organisasi dan kelembagaan yang lain untuk memahami dan melaksanakan pembangunan dalam arti luas secara berkelanjutan.
Dalam pengertian tersebut, terkandung pemahaman bahwa:

1) Yang dimaksud dengan kapasitas adalah kemampuan (indiividu, kelompok, organisasi, dan kelembagaan yang lain) untuk menunjukkan/memerankan fungsinya secara efektif, efisien, dan berkelanjutan.
2) Kapasitas bukanlah sesuatu yang pasif, melainkan proses yang berkelanjutan.
3) Pengembangan kapasitas sumberdaya manusia merupakan pusat pengembangan kapasitas.
4) Yang dimaksud dengan kelembagaan, tidak terbatas dalam arti sempit (kelompok, perkumpulan atau organisasi), tetapi juga dalam arti luas, menyangkut perilaku, nilai-nilai, dll.

Penguatan kapasitas untuk menumbuhkan partisipasi masyarakat tersebut, mencakup penguatan kapasitas setiap individu (warga masyarakat), kapasitas kelembagaan (organi-sasi dan nilai-nilai perilaku), dan kapasitas jejaring (net-working) dengan lembaga lain dan interaksi dengan sistem yang lebih luas.

Sejalan dengan pemahaman tentang pentingnya pemberdayaan masyarakat, strategi pembangunan yang memberikan per-hatian lebih banyak (dengan mempersiapkan) lapisan masya-rakat yang masih tertinggal dan hidup di luar atau di pinggiran jalur kehidupan modern. Strategi ini perlu lebih dikembang-kan yang intinya adalah bagaimana rakyat lapisan bawah (grassroots) harus dibantu agar lebih berdaya, sehingga tidak hanya dapat meningkatkan kapasitas produksi dan kemam-puan masyarakat dengan memanfaatkan potensi yang dimiliki, tetapi juga sekaligus meningkatkan kemampuan ekonomi nasional.

Upaya pemberdayaan masyarakat perlu mengikut-sertakan semua potensi yang ada pada masyarakat. Dalam hubungan ini, pemerintah daerah harus mengambil peranan lebih besar karena mereka yang paling mengetahui mengenai kondisi, potensi, dan kebutuhan masyarakatnya.

G. Obyek Pemberdayaan Masyarakat

Obyek atau target sasaran pemberdayaan dapat diarah-kan pada manusia (human) dan wilayah/kawasan tertentu.
Pemberdayaan yang diarahkan pada manusia dimaksudkan untuk menaikkan martabatnya sebagai mahluk sosial yang berbudaya dan meningkatkan derajat kesehatannya agar mereka dapat hidup secara lebih produktif. Upaya ini dilaku-kan melalui serangkaian program penguatan kapasitas.

Dalam kerangka perencanaan, penentuan kelom-pok sasar-an pemberdayaan masyarakat dapat dilakukan dengan pendekatan umum (universal) dan pendekatan khusus (ideal).
Dalam pendekatan universal, pemberdayaan diberikan kepada semua masyarakat. Keuntungan dari penedekatan ini mudah untuk diterapkan, namun kejelekan pende-katan ini adalah adanya disparitas atau kesenjangan pemahaman yang cukup tinggi. Sedangkan pendekatan ideal, menekankan bahwa pola pemberdayaan yang sesuai dengan klasifikasi strata masyarakat. Syarat yang harus dipenuhi adalah kelengkapan indikator dan kejelasan mengenai kriteria materi pemberdayaan.

H. Indikator Keberhasilan Pemberdayaan Masyarakat
Indikator keberhasilan yang dipakai untuk mengukur pelaksanaan program-program pemberdayaan masyarakat mencakup :

1) Jumlah warga yang secara nyata tertarik untuk hadir dalam tiap kegiatan yang dilaksanakan.
2) Frekuensi kehadiran tiap-tiap warga pada pelaksanaan tiap jenis kegiatan.
3) Tingkat kemudahan penyelenggaraan program untuk memperoleh pertimbangan atau persetujuan warga atas ide baru yang dikemukakan.
4) Jumlah dan jenis ide yang dikemukakan oleh masyarakat yang ditujukan untuk kelanaran pelaksanaan program pengendalian.
5) Jumlah dana yang dapat digali dari masyarakat untuk menunjang pelaksanaan program kegiatan.
6) Intensitas kegiatan petugas dalam pengendalian
masalah.
7) Meningkat kapasitas skala partisipasi masyarakat dalam bidang kesehatan.
Berkurangnya masyarakat yang menderita sakit malaria.
9) Meningkatnya kepedulian dan respon terhadap perlunya peningkatan kehidupan kesehatan.
10) Meningkatnya kemandirian kesehatan masyarakat.

I. Strategi Pemberdayaan Masyarakat
Strategi pemberdayaan pada dasarnya mempunyai tiga arah. Pertama, pemihakan dan pemberdayaan masyarkat. Kedua, pemantapan otonomi dan pendelegasian wewenang dalam pengelolaan pembangunan yang mengembangkan peran serta masyarakat. Ketiga, modernisasi melalui penajaman arah perubahan struktur sosial ekonomi (termasuk didalamnya kesehatan), budaya dan politik yang bersumber pada pertisipasi masyarakat.

Dengan demikian pengendalian faktor resiko penyakit malaria dilaksanakan dengan strategi sebagai berikut :

1) Menyusun instrumen faktor resiko dari penyakit malaria dari aspek lingkungan, perilaku pelayanan kesehatan dan kependudukan yang saling terkait dengan peran individu, keluarga dan masyarakat sekitarnya dan telah diujicoba. Dalam kegiatan ini bahan informasi adalah hasil penelitian-penelitian yang telah dilakukan sebelumnya, referensi yang ada, hasil temuan programer dari audit penyakit tersebut.
2) Membangun pemahaman, komitmen dan kerjasama tim tingkat kabupaten dan kecamatan dalam penerapan pendekatan keluarga untuk mendorong kemandirian individu, keluarga dan masyarakat melakukan pengendalian faktor resiko berbasis keluarga dari penyakit malaria.
3) Menerapkan pendekatan keluarga untuk pengendalian faktor resiko berbasis keluarga dari penyakit malaria, diselenggarakan Puskesmas bersama lintas sektor kecamatan, LSM, tokoh masyarakat dalam rangka kemandirian individu, keluarga dan masyarakat dalam mengendalikan faktor resiko tersebut.
4) Mempersiapkan sistem informasi dan survailance penyakit yang akan diatasi, manfaatkan pencatatan dan pelaporan yang ada, melengkapi hasil pemantauan pengendalian faktor resiko yang ditanggulangi. Mengembangkan sistem analisis, intervensi, monitoring dan evaluasi pemberda-yaan individu, keluarga dan masyarakat.
Ditulis oleh eone87